Samsung Bawa Mahakarya Van Gogh hingga Matisse ke Ruang Tamu - Bagi para penikmat seni, mengunjungi Stedelijk Museum di Amsterdam, Belanda, adalah sebuah impian besar. Museum ini menyimpang segudang koleksi seni modern dan kontemporer Eropa yang mengubah sejarah visual dunia. Namun, bagaimana jika pembaca Laptophia tidak perlu memesan tiket pesawat seharga belasan juta rupiah untuk melihatnya?
Berdasarkan informasi yang Laptophia terima melalui pengumuman resminya pada Senin (22/6/2026), Samsung Electronics Indonesia resmi menjalin kemitraan global dengan Stedelijk Museum Amsterdam. Kolaborasi ini memboyong deretan lukisan legendaris Eropa langsung ke dalam platform Samsung Art Store, siap mengubah layar TV di ruang keluarga pembaca Laptophia menjadi galeri seni kelas dunia.
Dari Goresan Van Gogh Hingga Potongan Kertas Matisse
Stedelijk Museum Amsterdam dikenal sebagai "kiblat" bagi gerakan seni radikal masa lalu, termasuk aliran De Stijl. Koleksi mereka sangat berciri khas: warna-warna primer yang mencolok, bentuk geometris yang berani, serta komposisi visual yang mendobrak zaman.
Melalui kemitraan ini, para pengguna TV cerdas Samsung di Indonesia bisa memajang beberapa mahakarya paling diburu di dunia, di antaranya:
- Henri Matisse: Menghadirkan karya ikonik “The Parakeet and the Mermaid” (1952–1953), sebuah mahakarya dari era akhir hidup Matisse yang dibuat menggunakan teknik guntingan kertas berwarna (gouache découpés).
- Jan Toorop: Menampilkan lukisan beraura magis “Old Oaks in Surrey” (1890).
- Deretan Maestro Modern: Turut hadir pula goresan tangan tak ternilai dari Vincent van Gogh, Claude Monet, Paul Cézanne, hingga Kazimir Malevich.
“Stedelijk Museum Amsterdam bertujuan untuk memperkenalkan seni dan desain modern kepada audiens seluas mungkin. Ini adalah perkembangan yang sangat berarti, memungkinkan masyarakat di seluruh dunia untuk menjelajahi koleksi kami secara mendalam dari rumah masing-masing,” ungkap Rein Wolfs, Direktur Stedelijk Museum Amsterdam.
Satu hal yang patut diapresiasi dari manuver Samsung di tahun 2026 ini adalah perluasan akses ekosistem digital mereka.
Dulu, menikmati lukisan berlisensi dari Samsung Art Store seolah menjadi hak istimewa bagi para pemilik TV Samsung The Frame saja. Kini, payung ekosistem Samsung Vision of Art telah dibuka sangat lebar. Mahakarya dari Stedelijk Museum Amsterdam ini sudah bisa diakses lintas perangkat, mulai dari lini Micro LED, Micro RGB, Neo QLED, Mini LED, hingga TV OLED kasta tertinggi mereka tahun ini, Samsung OLED S95H.
Kurator Samsung Art Store Eropa, Marta Di Gioia, menjelaskan bahwa teknologi panel TV Samsung saat ini sudah mencapai titik di mana mereka mampu mereproduksi warna minyak dan tekstur kanvas secara sangat presisi.
"Di Samsung, kami memandang rumah sebagai ruang utama untuk menikmati seni. Dengan menampilkan karya-karya seperti 'The Parakeet and the Mermaid' di Samsung Art Store, kami memungkinkan masyarakat untuk benar-benar hidup berdampingan dengan seni kelas dunia setiap harinya," papar Marta.
Bergabungnya Stedelijk Museum Amsterdam ini semakin memperkaya mega-perpustakaan digital Samsung Art Store. Hingga pertengahan 2026, platform ini telah mengantongi lebih dari 5.000 mahakarya seni dari 80+ institusi raksasa dunia, termasuk The Metropolitan Museum of Art (The Met) New York, MoMA, dan Tate London.
Strategi Samsung menjadikan TV sebagai "elemen dekorasi bernilai tinggi" adalah langkah cerdas untuk membunuh rasa bosan konsumen terhadap TV konvensional menurut Laptophia.
Membeli TV flagship seperti Neo QLED atau OLED S95H kini tidak lagi divalidasi sekadar oleh performa gaming 120Hz atau kemampuan memutar film Netflix 4K, tetapi tervalidasi oleh kemampuannya menaikkan "derajat" interior rumah. Mengeluarkan sedikit biaya langganan Art Store demi memajang lukisan asli Van Gogh dan Monet di dinding rumah jelas merupakan flexing visual paling elegan abad ini.
Anda mungkin suka:Review iQOO Z11x 5G: Performa Kencang, Baterai Badak, Ini Kekurangan Tersembunyinya!




Posting Komentar