eCWbXBoqKVlcyXUNIzJr7wbcnJRa7fysuT0ds4TB
Bookmark

Awas! 4 Kebiasaan Sepele Saat Browsing Ini Bikin Data Pribadi Gampang Dicuri

Awas! 4 Kebiasaan Sepele Saat Browsing Ini Bikin Data Pribadi Gampang Dicuri - Pesatnya pertumbuhan ekonomi digital melalui pertumbuhan e-commerce dan transaksi digital di Indonesia ibarat pedang bermata dua menurut Laptophia. Transaksi online dan belanja digital membuat hidup serba praktis dan mudah tanpa harus repot keluar rumah. Namun di sisi lain, kemudahan ini memberi ruang yang bagi para pelaku kejahatan siber (cybercrime) untuk melancarkan berbagai modus penipuan.

Angkanya pun tidak main-main. Berdasarkan informasi yang Laptophia himpun dari Indonesia Anti Scam Center (IASC), terdapat lebih dari 548.000 laporan kejahatan siber yang masuk sepanjang Januari 2024 hingga April 2026. Penipuan online dan phishing (pengelabuan) menjadi dua ancaman yang paling sering memakan korban.

Awas! 4 Kebiasaan Sepele Saat Browsing Ini Bikin Data Pribadi Gampang Dicuri


Namun, tahukah pembaca Laptophia? Ironisnya, banyak dari kasus peretasan dan pencurian data tersebut tidak bermula dari serangan peretas (hacker) kelas kakap, melainkan berawal dari kebiasaan digital kita sehari-hari yang terlihat sepele. Tanpa disadari, tindakan sederhana saat berselancar di internet bisa menjadi hal yang memudahkan bagi penjahat untuk mengambil alih akun pengguna.

4 Kebiasaan Sepele yang Berisiko Serangan Siber

Coba cek, apakah pembaca Laptophia masih sering melakukan 4 kebiasaan berisiko di bawah ini?

Baca juga:Review Realme Narzo, Layar Smooth dengan Performa Yahud

1. Hobi Menimbun Tab Browser Berhari-hari

Banyak orang memiliki kebiasaan membuka banyak tautan (link), lalu membiarkan puluhan tab tersebut tetap terbuka di browser (seperti Chrome, Edge, atau Opera) selama berhari-hari tanpa menutupnya dengan benar. Sekilas hal ini memang praktis karena pengguna tidak perlu mencari dan membuka link ulang saat membutuhkan informasi di dalamnya.

Namun kebiasaan ini bukan cuma menguras memori (RAM) dan bikin laptop jadi lemot. Secara keamanan, tab yang dibiarkan aktif di latar belakang dapat terus menjalankan pelacak (tracker), memuat iklan tersembunyi, atau bahkan diam-diam menyedot data pengguna tanpa disadari. 

Semakin banyak tab yang terbuka, maka semakin besar celah privasi yang terekspos. Guna meningkatkan keamanan dan privasi, pengguna dapat menutup tab yang tidak terpakai, atau gunakan browser yang memiliki fitur manajemen tab dan perlindungan privasi bawaan seperti Opera atau browser lainnya.

2. Asal Klik "Terima Semua" (Accept All) pada Pop-up Cookie

Saat baru pertama kali mengunjungi sebuah situs web, pembaca Laptophia pasti sering menjumpai pop-up persetujuan penggunaan cookie. Karena malas membaca dan ingin cepat membaca artikel, mayoritas orang akan langsung menekan tombol "Terima Semua" atau "Accept All".

Awas! 4 Kebiasaan Sepele Saat Browsing Ini Bikin Data Pribadi Gampang Dicuri


Hati-hati! Tidak semua cookie itu baik untuk kebutuhan teknis situs. Sebagian besar cookie pihak ketiga digunakan untuk memata-matai aktivitas dan minat pengguna di berbagai situs web. Data ini bisa disalahgunakan oleh penjahat siber untuk merancang modus phishing yang sangat terpersonalisasi, sehingga pengguna akan lebih mudah tertipu karena penipuan tersebut terasa sangat relevan dengan kebiasaan. Luangkan sedikit waktu untuk menolak cookie yang tidak perlu, atau gunakan browser dengan fitur pemblokir pelacak bawaan.

3. Terlalu Banyak Memasang Ekstensi (Add-ons)

Ekstensi atau add-ons browser memang sangat membantu karena menawarkan banyak fungsi atau fitur yang tak dimiliki browser secara default. Ada ekstensi untuk memblokir iklan, mencari diskon otomatis, hingga mencatat password. Berdasarkan informasi yang Laptophia himpun, tidak semua ekstensi yang beredar itu aman.

Beberapa ekstensi nakal sengaja dibuat untuk memantau aktivitas online pembaca Laptophia, atau bahkan meminta izin akses sistem yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Dalam kasus fatal, ekstensi berbahaya ini bisa mencuri informasi login m-banking pengguna atau mengarahkan ke situs malware

Baca juga:Realme 5 Pro Review: Performa Makin Kencang, Tampang Makin Cantik!

Guna mengantisipasi risiko semacam ini, pembaca Laptophia perlu selalu selektif saat mengunduh ekstensi. Browser seperti Opera biasanya melakukan peninjauan manual untuk menyingkirkan ekstensi berbahaya dari toko resmi mereka sebelum bisa diunduh pengguna.

4. Malas Update Browser karena Merasa "Masih Aman"

"Ah, browser-nya masih lancar, update-nya nanti saja." Ini adalah kalimat yang paling disukai oleh para peretas.

Menunda pembaruan browser adalah kesalahan fatal. Ingat, update aplikasi bukan sekadar mengubah tampilan atau menambah fitur baru, melainkan menambal celah keamanan (security patch) yang baru saja ditemukan oleh tim developer. 

Jika pembaca Laptophia menggunakan browser versi lawas, perangkat akan sangat rentan disusupi malware atau skrip berbahaya saat membuka situs tertentu karena mungkin ada celah keamanan yang belum ditutup atau di-patch. Mulai sekarang, segera aktifkan fitur pembaruan otomatis (auto-update)!

Keamanan Siber Berawal dari Kendali Diri

Di era di mana seluruh data kehidupan kita tersimpan di internet, kesadaran akan kebersihan digital (digital hygiene) mutlak diperlukan. Keamanan online tidak murni bergantung pada seberapa mahal antivirus, tetapi pada kebiasaan klik pengguna setiap hari.

“Seiring pertumbuhan ekonomi digital global, ancaman yang menargetkan pengguna sehari-hari juga menjadi semakin canggih — dan Indonesia bukan pengecualian. Banyak dari kita tidak menyadari seberapa besar kendali yang sebenarnya kita miliki terhadap keamanan online pribadi," ujar Michael Tegos, Product Privacy & Security Advocate Opera.

"Memperbarui browser, meninjau kembali ekstensi yang digunakan, atau lebih selektif dalam menerima cookie dapat membantu mengurangi risiko paparan pelaku kejahatan siber secara signifikan. Di Opera, kami terus berupaya menghadirkan perlindungan yang mudah diakses agar pengguna tetap aman saat online,” tutupnya.

Laporan dari IASC dengan 548.000 kasus dalam waktu kurang dari dua setengah tahun adalah wake-up call bagi warganet Indonesia menurut Laptophia. Sering kali kita menyalahkan sistem keamanan bank atau platform e-commerce saat terjadi pembobolan saldo, padahal celahnya justru pengguna buka sendiri lewat kebiasaan sembarangan saat browsing. 

Solusi paling murah dan efektif untuk menangkal kejahatan siber bukanlah perangkat lunak ratusan ribu rupiah, melainkan menumbuhkan rasa "curiga" saat mengklik tautan, rajin membersihkan ekstensi, dan tidak malas melakukan update aplikasi.

Anda mungkin suka:Review Samsung Galaxy A07, Smartphone Murah Terbaik dengan Update OS 6 Tahun
Posting Komentar

Posting Komentar