eCWbXBoqKVlcyXUNIzJr7wbcnJRa7fysuT0ds4TB
Bookmark

Ramadan 2026: Strategi Storytelling Jadi Kunci Brand Menangkan Hati Konsumen di Tengah Gempuran Aplikasi Mobile

Ramadan 2026: Strategi Storytelling Jadi Kunci Brand Menangkan Hati Konsumen di Tengah Gempuran Aplikasi Mobile - Ramadan di Indonesia bukan sekadar momen spiritual, tapi juga fenomena budaya dan komersial yang luar biasa. Tahun ini, penggunaan aplikasi mobile diprediksi akan kembali mencapai puncaknya. Namun, pertanyaannya adalah: apakah sekadar memberikan diskon besar-besaran sudah cukup bagi brand untuk menonjol?

Berdasarkan laporan terbaru bertajuk “Ramadan App Trends Decoded” dari Adjust, terdapat pergeseran perilaku yang signifikan pada konsumen Indonesia. Mulai dari waktu belanja yang berubah hingga meningkatnya aktivitas aplikasi di jam-jam larut malam, brand kini dituntut untuk lebih dari sekadar "berisik" di media sosial.

Ramadan 2026: Strategi Storytelling Jadi Kunci Brand Menangkan Hati Konsumen di Tengah Gempuran Aplikasi Mobile


Perubahan Ritme: Dari Waktu Iftar hingga Begadang Digital

Selama bulan puasa, rutinitas masyarakat Indonesia berubah total. Aktivitas aplikasi kini tidak lagi mengikuti pola jam kerja standar, melainkan bergeser:

Baca juga:Review Realme 15T 5G: Tampil Mewah dengan Baterai Super Awet dan Kamera Tajam

  • Lonjakan Pasca Iftar: Tingkat keterlibatan pengguna melonjak tajam setelah waktu berbuka hingga malam hari.
  • Kategori High-Intention: Aplikasi e-commerce, keuangan, pesan-antar makanan, hingga gim mobile menjadi primadona karena pengguna mencari kemudahan dan hiburan selama waktu luang.

Bukan Soal Diskon, Tapi Soal Relevansi Budaya

Laporan Adjust menyoroti bahwa persaingan yang ketat sering kali membuat efektivitas iklan menurun jika hanya mengandalkan insentif jangka pendek. Di sinilah relevansi budaya berperan. Konsumen Indonesia cenderung lebih loyal pada brand yang memahami nilai kebersamaan dan refleksi diri.

“Di Indonesia, storytelling yang relevan secara budaya menjadi jauh lebih penting dibandingkan promosi semata. Brand yang mampu merefleksikan nilai bersama dan pengalaman nyata masyarakat akan melihat tingkat engagement yang lebih kuat serta loyalitas jangka panjang," kata Marlin Silviana, Head of Martech di Erajaya.

Memanfaatkan Data untuk Navigasi Fase Ramadan

Ramadan di Indonesia terbagi dalam beberapa fase: awal puasa, pertengahan, hingga euforia menjelang Idul Fitri.

  • Pacing dan Pesan: Brand harus menyesuaikan pesan mereka berdasarkan data waktu aktif pengguna agar tidak dianggap sebagai "sampah" digital di tengah padatnya notifikasi.
  • Pertumbuhan Berkelanjutan: Tujuannya bukan lagi sekadar lonjakan trafik sesaat, melainkan membangun kepercayaan yang terus berlanjut bahkan setelah Lebaran usai.

Saatnya Gadget dan Aplikasi Menjadi "Jembatan" Kebaikan?

Laptophia menilai bahwa temuan Adjust ini sangat akurat dengan kondisi pasar Indonesia saat ini. Kita sering melihat banyak brand yang "memaksa" masuk dengan promo agresif yang justru terasa mengganggu di jam-jam ibadah. Sebaliknya, brand yang hadir dengan pesan inspiratif—misalnya konten tips produktivitas saat puasa atau kemudahan berbagi zakat lewat aplikasi—jauh lebih membekas di hati pengguna.

Bagi Laptophia, teknologi harusnya berfungsi sebagai pemungkin (enabler). Kami sangat mendukung pendekatan berbasis data yang dikombinasikan dengan sentuhan manusiawi. Di era di mana semua orang memegang smartphone, brand yang berhasil memenangkan Ramadan adalah mereka yang paling "paham" kapan harus hadir untuk membantu, dan kapan harus hadir untuk menginspirasi. Ramadan 2026 akan menjadi panggung bagi brand yang tidak hanya jualan fitur, tapi juga jualan makna.

Anda mungkin suka:Review iQOO Z10 5G: Performa Kencang dan Baterai Paling Tahan Lama!
0

Posting Komentar