Tak Cuma Ikut Tren, ITSEC Asia Kumpulkan 600 Petinggi di Bali Bahas Masa Depan AI dan Ketahanan Siber RI - Mengadopsi Kecerdasan Buatan (AI) di lingkungan perusahaan kini bukan lagi soal pamer inovasi, melainkan bagaimana menjaga benteng pertahanan dari ancaman siber yang makin beringas. Merespons urgensi tersebut, raksasa keamanan siber ITSEC Asia siap menggelar ajang bergengsi AI & Cybersecurity Executive Forum (AICX) 2026.
Berdasarkan siaran pers yang Laptophia terima, forum AICX 2026 ini bertempat di Bali Beach Convention, Sanur, pada 20 Oktober 2026 mendatang. Forum kelas kakap ini menjadi bagian dari rangkaian Bali Tech Week 2026. Tak main-main, acara ini akan mempertemukan pemerintah, regulator, serta sekitar 600 pemimpin C-level (CEO, CIO, CTO, CISO) dari berbagai sektor strategis untuk membedah kesiapan Indonesia menghadapi tsunami adopsi AI dan ancaman komputasi kuantum.
AI Bukan Lagi Fase Eksperimen
AICX 2026 merupakan evolusi dari forum tahunan ITSEC yang sebelumnya murni berfokus pada isu keamanan siber konvensional. Tahun ini, cakupannya diperlebar seiring makin tipisnya batas antara pemanfaatan AI, perlindungan data privasi, dan kebutuhan talenta digital yang mumpuni.
Baca juga:Review Samsung Galaxy A26 5G: Performa Bisa Diandalkan dan Dukungan Update Panjang, Tapi...
Presiden Direktur PT ITSEC Asia Tbk, Patrick Dannacher, menegaskan bahwa diskusi tentang AI kini telah bergeser dari ruang laboratorium ke meja direksi. Teknologi ini sudah menjadi tulang punggung operasional dan pengambilan keputusan bisnis sehari-hari.
“Pertanyaan bagi para pemimpin sekarang bukan lagi apakah organisasi akan menggunakan AI, tetapi bagaimana menggunakannya secara aman, bertanggung jawab, dan tetap memberikan nilai nyata bagi bisnis,” ungkap Patrick.
Menurutnya, keputusan strategis perusahaan terkait AI, perlindungan data, dan kesiapan talenta kini saling mengikat. "Melalui AICX, kami ingin mempertemukan para pengambil keputusan agar diskusi mengenai teknologi tidak hanya soal kecanggihannya, tetapi juga menimbang matang risiko, kesiapan organisasi, serta dampaknya bagi kedaulatan digital Indonesia," tambahnya.
Sinergi Pemerintah dan Pelaku Industri
Menyadari besarnya risiko yang mengintai, pemerintah pun turun tangan. Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) RI, Edwin Hidayat Abdullah, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. Manfaat ekonomi dari AI hanya bisa diraih maksimal jika ekosistemnya sehat dan aman.
“Pemanfaatan AI di Indonesia membutuhkan ekosistem yang mampu mempertemukan pengembangan teknologi, kebutuhan industri, kesiapan sumber daya manusia, serta tata kelola yang memberikan ruang bagi pertumbuhan. Pemerintah sangat membutuhkan kolaborasi dengan industri untuk membangun benteng tersebut,” jelas Edwin.
Kehadiran AICX di tengah perhelatan Bali Tech Week diharapkan Edwin dapat menjadi wadah dialog produktif antara pemerintah dan eksekutif industri, guna merumuskan regulasi dan standar etika AI yang tepat sasaran.
Agenda forum ini dipastikan akan berlangsung padat, melibatkan perwakilan dari sektor vital seperti jasa keuangan, telekomunikasi, energi, hingga manufaktur. Pembahasan tidak akan berhenti pada euforia adopsi teknologi, melainkan menukik tajam pada isu perlindungan data, pengawasan machine learning, hingga mengukur kesiapan tenaga kerja agar tak tergilas otomatisasi.
“Indonesia memiliki peluang besar untuk memperoleh manfaat ekonomi dari AI. Namun, kesiapan tidak cukup hanya diukur dari seberapa cepat kita mengadopsi teknologi. Kita harus memastikan bahwa organisasi memiliki keamanan, tata kelola, dan talenta yang mampu mengelolanya dengan baik,” pungkas Patrick.
Anda mungkin suka:Review Rexus Fortress K9G, Keyboard Murah Bergaya Gaming yang Nyaman





Posting Komentar