Fortinet FortiCNAPP Kini Makin Cerdas Amankan Cloud dengan Konteks Jaringan dan Data - Mengelola keamanan di lingkungan cloud sering kali menjadi mimpi buruk bagi tim IT karena terlalu banyak data yang tidak relevan. Menjawab tantangan tersebut, Fortinet resmi mengumumkan peningkatan besar pada FortiCNAPP.
Pembaruan ini dirancang untuk membantu organisasi memprioritaskan risiko cloud yang benar-benar berbahaya, bukan sekadar memberikan tumpukan peringatan (alert) yang membingungkan. Dengan mengintegrasikan keamanan jaringan, perlindungan data (DSPM), dan validasi runtime, FortiCNAPP kini menjadi benteng yang lebih utuh bagi perusahaan.
Solusi atas Masalah "Tool Sprawl" dan Visibilitas
Berdasarkan 2026 Cloud Security Report dari Fortinet, hampir 70% organisasi mengaku kewalahan karena terlalu banyak alat keamanan yang terpisah-pisah (tool sprawl). Hal ini menyebabkan respons terhadap ancaman menjadi lambat karena data yang terfragmentasi.
Baca juga:Harga dan Spesifikasi Asus TP3407SA OLED5152M Terbaru, Laptop Hybrid AI Layar OLED
Nirav Shah, Senior Vice President Products and Solutions Fortinet, menjelaskan bahwa tantangan utama saat ini bukanlah kekurangan data, melainkan kompleksitas.
"Melalui FortiCNAPP, kami memungkinkan pelanggan beralih dari banjir alert ke tindakan yang jelas berdasarkan eksposur nyata," ujarnya.
Tiga Pilar Baru FortiCNAPP untuk Keamanan Maksimal
- Integrasi Postur Keamanan Jaringan: Berbeda dengan solusi lain, FortiCNAPP kini bisa mendeteksi apakah beban kerja cloud sudah dilindungi oleh firewall (seperti FortiGate). Jika perlindungan sudah ada, skor risiko akan disesuaikan secara otomatis. Ini membantu tim IT menghindari "urgensi palsu" pada celah yang sebenarnya sudah terproteksi.
- Data Security Posture Management (DSPM) Native: Fitur ini secara otomatis mengidentifikasi di mana data sensitif berada, siapa yang mengaksesnya, dan apakah ada potensi malware. Tanpa perlu memindahkan data, sistem akan langsung menaikkan prioritas risiko jika melibatkan data krusial perusahaan.
- Prioritisasi Berbasis Runtime: Sistem ini mampu membedakan mana celah keamanan yang hanya "teori" dan mana yang benar-benar aktif serta bisa dieksploitasi oleh peretas di dunia nyata. Hasilnya? Proses perbaikan (remediasi) menjadi jauh lebih cepat.
Satu Alur Kerja, Satu Tampilan Terpadu
Dengan FortiCNAPP, tim keamanan tidak perlu lagi berpindah-pindah aplikasi. Semua insight mulai dari hak akses infrastruktur, kerentanan sistem, hingga sensitivitas data disajikan dalam satu tampilan layar. Hal ini memungkinkan organisasi dengan sumber daya terbatas tetap bisa menjaga infrastruktur mereka layaknya memiliki auditor profesional yang bekerja 24 jam.
Langkah Tepat di Tengah Badai Kompleksitas Cloud?
Laptophia menilai peningkatan pada FortiCNAPP ini adalah langkah yang sangat pragmatis dan solutif. Di tahun 2026, di mana hampir semua bisnis sudah go-cloud, masalah terbesar bukan lagi "bagaimana cara mengamankan", tapi "mana yang harus diamankan duluan". Kemampuan FortiCNAPP untuk memangkas noise (peringatan tidak penting) dan fokus pada dampak bisnis adalah fitur yang sangat kami apresiasi. Konteks jaringan yang terintegrasi langsung ke penilaian risiko adalah nilai tambah yang jarang dimiliki kompetitor.
Namun, Laptophia mencatat bahwa efektivitas maksimal dari FortiCNAPP ini akan sangat bergantung pada seberapa jauh ekosistem perangkat keras dan lunak perusahaan sudah menggunakan produk Fortinet lainnya (Fortinet Security Fabric). Meskipun bersifat cloud-native, integrasi terbaiknya tetap terasa lebih condong ke arah "sentrisitas vendor".
Selain itu, bagi perusahaan skala menengah di Indonesia, tantangan utamanya mungkin terletak pada biaya implementasi platform sekomprehensif ini. Kami berharap Fortinet juga menyediakan modul yang lebih fleksibel bagi bisnis yang ingin mulai mengadopsi keamanan cloud secara bertahap tanpa harus langsung membeli seluruh ekosistemnya.
Anda mungkin suka: Review Senfer DT6 Pro, IEM Quad Driver Bersuara Detail dan Bertenaga




Posting Komentar