ITSEC Asia Buka Cyber dan AI Academy: Siap Cetak Ahli Siber Kelas Dunia, Ada Siswa Boyolali Peretas NASA Lho! - Di era ledakan kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi yang serba cepat, ancaman peretasan dan kebocoran data makin mengintai. Sayangnya, Indonesia saat ini masih kekurangan "pasukan" ahli keamanan siber.
Menjawab tantangan krisis talenta digital tersebut, ITSEC Asia, perusahaan cybersecurity kawakan dengan pengalaman lebih dari 16 tahun, resmi meluncurkan ITSEC Cyber & AI Academy di Jakarta pada Senin (10/8/2026).
Akademi ini bukan tempat kursus biasa, melainkan "kawah candradimuka" berbasis praktik dunia nyata untuk mencetak para ahli keamanan siber dan AI tangguh di Indonesia.
Darurat! Indonesia Butuh 9 Juta Talenta Digital
Kebutuhan akan ahli yang paham cara membangun dan mengamankan teknologi AI kini sangat mendesak. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, Nezar Patria, mengungkapkan fakta yang cukup mengkhawatirkan.
Baca juga:Review Samsung Galaxy A26 5G: Performa Bisa Diandalkan dan Dukungan Update Panjang, Tapi...
"Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital pada 2030, sementara saat ini kita baru memiliki sekitar 3 juta. Kesenjangan ini tidak dapat diatasi oleh pemerintah sendiri. Inisiatif seperti ITSEC Cyber & AI Academy dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan talenta di bidang cybersecurity dan AI," tegas Nezar.
Hal senada juga diungkapkan oleh Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI. Menurutnya, Indonesia punya kekuatan besar berupa data. Namun, data hanya akan menjadi kekuatan strategis jika kita punya kemampuan melindunginya.
Filosofi Academy: Mencetak Sang Pembela (Defend & Attack)
Membawa filosofi "We don't just train defenders. We create them", ITSEC Cyber & AI Academy menawarkan pendekatan berbasis praktisi (practitioner-led). Para peserta tidak hanya disuapi teori, tetapi langsung diuji dengan simulasi kondisi serangan siber di dunia nyata.
Akademi ini terbagi menjadi dua fokus utama:
- Cybersecurity Academy (Defend & Attack): Membangun insting bertahan dan menyerang. Peserta diajarkan bagaimana sebuah sistem dilindungi, sekaligus membobolnya untuk menemukan kerentanan.
- AI Academy (Build & Govern): Berfokus pada pengembangan dan penerapan AI di organisasi, namun dengan tata kelola dan sistem keamanan yang sangat ketat.
"Kami membawa pengalaman 16 tahun kami ke dalam pengembangan talenta yang akan menjadi bagian dari generasi berikutnya yang menjaga masa depan digital Indonesia," ujar Patrick Dannacher, President Director ITSEC Asia.
Ekosistem Canggih: Dari AKSI hingga PERISAI
Untuk mendukung kurikulumnya, ITSEC menghadirkan ekosistem teknologi cerdas dengan singkatan yang sangat melokal, di antaranya:
- AKSI: Sistem asesmen untuk mengidentifikasi kemampuan teknis dan soft skills kandidat.
- CAKRA: Lingkungan pembelajaran terpusat untuk mengelola kompetensi siber.
- SAKTI: Sistem pembelajaran adaptif berbasis AI, lengkap dengan fitur anti-curang (anti-cheating).
- PERISAI: Platform simulasi (semacam arena tempur siber) untuk menguji skenario intelijen dan ancaman secara realistis.
- JAGA: Layanan cyber awareness untuk melatih karyawan organisasi mengenali phishing dan ancaman lainnya.
Bangga! Siswa Asal Boyolali "Retas" NASA dan Didukung Penuh ITSEC
Momen peluncuran akademi ini semakin spesial dengan hadirnya inisiatif ITSEC CyberTalent. Program ini langsung memberikan apresiasi kepada talenta lokal luar biasa, yakni Ibrahim Al Abrar, seorang pelajar berbakat asal Boyolali, Jawa Tengah!
Ibrahim baru-baru ini sukses membuat heboh setelah menemukan dan melaporkan celah kerentanan keamanan (bug) pada sistem publik milik badan antariksa Amerika Serikat, NASA (National Aeronautics and Space Administration). Atas aksinya ini, ia bahkan menerima Letter of Appreciation resmi dari NASA.
Melihat potensi emas dari pelajar Boyolali tersebut, ITSEC Asia memberikan dukungan penuh berupa perangkat cybersecurity, sesi pelatihan privat bersama ahli siber ITSEC, hingga jaminan program magang di ITSEC Asia!
"Tantangan terbesar sering kali bukan kemampuan, melainkan akses terhadap pembelajaran dan kesempatan. Melalui ITSEC CyberTalent, kami ingin membantu talenta muda Indonesia seperti Ibrahim untuk terus berkembang dan menjaga keamanan digital Indonesia di masa depan," tutup Patrick.
Anda mungkin suka:Review Rexus Fortress K9G, Keyboard Murah Bergaya Gaming yang Nyaman




Posting Komentar