eCWbXBoqKVlcyXUNIzJr7wbcnJRa7fysuT0ds4TB
Bookmark

Sebagian Besar Organisasi di RI Kena Retas, Fortinet Ungkap Krisis Ahli Siber di Tengah Ancaman AI

Sebagian Besar Organisasi di RI Kena Retas, Fortinet Ungkap Krisis Ahli Siber di Tengah Ancaman AI - Era digital yang semakin canggih nyatanya membawa mimpi buruk tersendiri bagi banyak perusahaan di Indonesia. Masifnya adopsi Artificial Intelligence (AI) ternyata berbanding lurus dengan meningkatnya kompleksitas serangan siber. Celakanya, tembok pertahanan ini keropos dari dalam akibat krisis talenta ahli keamanan siber.

Fakta mengejutkan ini diungkapkan langsung oleh Fortinet melalui laporan terbarunya bertajuk 2026 Global Cybersecurity Skills Gap Report yang dirilis pada Kamis, 16 Juli 2026. Seperti informasi yang tim Laptophia terima dari siaran pers, laporan ini menyoroti bahwa kurangnya investasi dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang IT menjadi biang kerok utama dari berbagai insiden peretasan berskala besar di Tanah Air.

Sebagian Besar Organisasi di RI Kena Retas, Fortinet Ungkap Krisis Ahli Siber di Tengah Ancaman AI


“Keamanan siber bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan risiko strategis bagi bisnis. Meskipun dewan direksi telah menyadari pentingnya keamanan siber, masih diperlukan investasi yang lebih besar untuk mengatasi risiko AI dan kekurangan talenta yang terus berlangsung,” tegas Carl Windsor, Chief Information Security Officer (CISO) Fortinet.

Statistik Kelam Keamanan Siber Indonesia 2026

Laporan Fortinet membongkar betapa rentannya infrastruktur digital organisasi di Indonesia. Angka-angka di bawah ini menjadi alarm keras bagi para pemangku kepentingan:

Baca juga:Langkah Mudah Update Android 17 di Google Pixel 6a via OTA

  • Nyaris Semua Pernah Kebobolan: Sebanyak 92% organisasi di Indonesia mengaku mengalami satu atau lebih insiden peretasan dalam 12 bulan terakhir. Bahkan, 64% di antaranya mengalami serangan lebih dari lima kali!
  • Kerugian Finansial Raksasa: 62% organisasi di Indonesia harus merogoh kocek lebih dari 1 juta dolar AS (sekitar Rp 16 miliar) hanya untuk biaya pemulihan pasca-peretasan. Waktu pemulihannya pun memakan waktu lebih dari satu bulan (64%).
  • Kekurangan SDM Jadi Biang Kerok: 76% pemimpin TI di Indonesia sepakat bahwa kurangnya staf keamanan siber yang terlatih adalah penyebab utama jebolnya sistem mereka. Saat ini, 51% organisasi sangat haus akan tenaga keamanan siber tingkat senior.
  • Kursi Eksekutif Jadi Taruhan: Dampak peretasan tidak main-main. 47% responden menyatakan bahwa anggota dewan direksi atau level eksekutif (C-suite) pernah menerima sanksi berupa denda hukum, bahkan pemecatan akibat insiden serangan siber.

Pisau Bermata Dua Bernama AI

Kehadiran AI ibarat pisau bermata dua dalam dunia keamanan siber. Di satu sisi, 98% organisasi kini sudah menggunakan atau sedang menguji perangkat keamanan berbasis AI, dan 90% setuju bahwa AI membuat tim TI bekerja lebih efisien.

Namun, di sisi lain, penggunaan tools AI generatif oleh karyawan biasa justru menciptakan titik buta (blind spot) baru yang rentan disusupi hacker. Apalagi, para penjahat siber kini juga menggunakan AI untuk merancang serangan AI (AI-powered attacks), yang membuat 50% pemimpin IT ketar-ketir.

Untuk mengimbangi ancaman ini, 73% responden memprediksi bahwa dalam tiga tahun ke depan, perusahaan wajib memiliki tim khusus yang berfokus pada pengawasan dan tata kelola AI. Sayangnya, 82% perusahaan mengaku sangat kesulitan mencari ahli siber yang paham seluk-beluk AI.

Perusahaan Mulai "Bakar Uang" untuk Pelatihan

Sadar akan bahaya yang mengintai, perusahaan-perusahaan kini mulai mengubah strategi. Alih-alih hanya berinvestasi pada software, mereka mulai agresif berinvestasi pada "otak" manusia.

  • Sertifikasi Dibiayai Penuh: Hampir seluruh perusahaan (93%) kini bersedia membiayai sertifikasi keamanan siber bagi karyawannya. Angka ini melonjak tajam dari 76% pada tahun 2025.
  • Pelatihan Internal AI: 97% organisasi berencana menggelontorkan dana untuk pelatihan AI dalam setahun ke depan, termasuk melatih staf untuk pengembangan model AI (68%) dan otomatisasi keamanan (58%).
  • Perburuan Talenta Inklusif: 100% organisasi kini memanfaatkan program magang dan kemitraan untuk mencari bibit-bibit unggul di bidang IT dari kelompok yang selama ini kurang terwakili.

Menjawab krisis global ini, Fortinet Training Institute turun tangan dengan menyediakan program pelatihan keamanan siber terbesar di industri. Fortinet bahkan telah mematok target ambisius untuk melatih 1 juta orang di seluruh dunia pada tahun ini guna menutup jurang kesenjangan talenta tersebut.

Laporan Fortinet 2026 ini menjadi bukti nyata bahwa membeli sistem firewall atau antivirus semahal apa pun tidak akan ada gunanya jika perusahaan tidak memiliki operator (manusia) yang andal menurut tim Laptpphia. 

Fenomena eksekutif atau C-level yang berpotensi dipecat akibat data bocor seharusnya menjadi wake-up call bagi perusahaan di Indonesia untuk tidak lagi memandang divisi IT / Keamanan Siber sebagai "beban biaya", melainkan aset pertahanan utama berdirinya sebuah bisnis di era AI.

Anda mungkin suka:Hands On dan Unboxing Samsung Galaxy A26 5G, Impresi Awal Ternyata Seperti Ini...
Posting Komentar

Posting Komentar