eCWbXBoqKVlcyXUNIzJr7wbcnJRa7fysuT0ds4TB
Bookmark

Penipuan Deepfake dan Synthetic Fraud Mengancam Black Friday: 75% Konsumen Indonesia Hapus Aplikasi Karena Isu Keamanan!

Penipuan Deepfake dan Synthetic Fraud Mengancam Black Friday: 75% Konsumen Indonesia Hapus Aplikasi Karena Isu Keamanan! - Menjelang periode belanja online tersibuk, terutama Black Friday dan musim liburan akhir tahun, muncul data mengejutkan dari laporan tahunan Appdome, Consumer Expectations of Mobile App Security Report. Survei yang baru pertama kali melibatkan konsumen Indonesia ini mengungkapkan bahwa ketakutan terhadap penipuan berbasis AI telah menjadi alasan utama pengguna meninggalkan atau menghapus aplikasi seluler.

Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Data industri menunjukkan upaya penipuan siber melonjak drastis, bahkan mencapai lebih dari empat kali lipat selama Cyber Week saja. Risiko yang meningkat pesat ini memaksa konsumen Indonesia menuntut tingkat perlindungan yang jauh lebih tinggi dari penyedia aplikasi fintech, ritel, dan perbankan.

Penipuan Deepfake dan Synthetic Fraud Mengancam Black Friday: 75% Konsumen Indonesia Hapus Aplikasi Karena Isu Keamanan!


Ancaman AI Mendorong Gelombang Baru Penipuan

Lanskap penipuan pada 2025 didominasi oleh serangan berbasis AI, seperti persetujuan pembayaran deepfake, serangan phishing, dan pengambilalihan akun yang diotomatisasi oleh bot.

Baca juga:Perbedaan Vivo Y21d vs Vivo Y19sGT 5G: Harga Hampir Sama, Mending Mana?

Riset Appdome menunjukkan tingkat kekhawatiran yang sangat tinggi di Indonesia:

  • Pemicu Utama Ketakutan: 56,7% konsumen Indonesia paling takut terhadap penipuan sintetis (synthetic fraud) saat belanja lewat perangkat seluler.
  • Aksi Nyata: 40,7% secara proaktif menghapus atau meninggalkan aplikasi hanya karena kekhawatiran pencurian identitas.
  • Faktor Keamanan: Total 75,3% telah meninggalkan aplikasi akibat masalah privasi atau keamanan umum.

“AI mengubah lanskap penipuan lebih cepat daripada kemampuan bisnis seluler untuk merespons,” kata Tom Tovar, Co-Creator and CEO, Appdome. “Konsumen ingin bukti bahwa aplikasi mereka dapat menghentikan penipuan sebelum pembelian dilakukan – bukan setelah kerugian terjadi.”

Paradoks AI: Yakin Bisa Diblokir, Tapi Pelaku Kejahatan Makin Leluasa

Uniknya, konsumen Indonesia menunjukkan optimisme yang tinggi terhadap kemampuan aplikasi untuk memblokir ancaman AI, sebuah fenomena yang disebut “Paradoks AI”:

  • Optimisme Tinggi: 72,3% konsumen Indonesia merasa yakin aplikasi seluler benar-benar dapat menghentikan ancaman berbasis AI—jauh di atas rata-rata global!
  • Tuntutan Perlindungan: 90% berharap aplikasi dapat memblokir ancaman AI seperti bot, deepfake, impersonation, dan pengambilalihan akun.

Tuntutan ini memberikan tekanan besar pada aplikasi e-commerce, layanan keuangan, dan layanan pengiriman menjelang lonjakan transaksi akhir tahun.

Pencegahan Adalah Ekspektasi Baru, Bukan Penggantian Kerugian

Selama musim belanja yang serba cepat ini, konsumen tidak lagi puas dengan jaminan penggantian kerugian setelah penipuan terjadi; mereka menuntut pencegahan proaktif:

  • Prioritas Utama: 84,8% mengutamakan pencegahan penipuan sebelum terjadi, bukan penggantian kerugian setelah kerugian ditanggung.
  • Siapa yang Bertanggung Jawab?: 53,7% dengan tegas menyatakan pengembang aplikasi seluler—bukan perangkat atau operator—yang bertanggung jawab penuh untuk menghentikan penipuan.

“Belanja musim liburan adalah saat penyerang paling gencar beraksi,” kata Jamie Bertasi, Chief Customer Officer, Appdome. “Menghentikan serangan ini langsung di dalam aplikasi sangat penting untuk melindungi konsumen — dan pendapatan — selama musim belanja tersibuk dalam setahun ini.”

Aplikasi yang berhasil menunjukkan perlindungan yang jelas dan nyata selama masa kritis ini akan memenangkan loyalitas pelanggan, di mana 98,4% konsumen mengatakan mereka akan merekomendasikan aplikasi yang terbukti melindungi mereka.

Anda mungkin suka:Sedang Cari Laptop untuk Kuliah? Ini 5 Rekomendasinya!
0

Posting Komentar